Jakarta Selatan (9/6). Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jakarta Selatan menyelenggarakan acara “Refreshment Kurikulum Anak Caberawit” bagi para tenaga pendidik usia sekolah dasar. Acara yang dihadiri oleh sekitar 100 tenaga pendidik se-Jakarta Selatan ini berlangsung di Gedung Serbaguna BIM, pada Selasa (9/6/2026).
Kegiatan ini berfokus pada penyegaran metode pengajaran dan pembaruan kurikulum agar sejalan dengan target pembentukan karakter generasi muda. Ketua DPD LDII Jakarta Selatan, Mulyono, menegaskan bahwa acara ini merupakan langkah strategis organisasi dalam membina generasi penerus (generus).
“Tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi tenaga pendidik dalam mengimplementasikan kurikulum pembelajaran yang selaras dengan program perwujudan 29 karakter luhur. Dengan demikian, penanaman nilai-nilai karakter kepada generus dapat dilakukan secara efektif, terarah, dan berkesinambungan sejak usia dini,” ujar Mulyono.
Materi bimbingan teknis ini diisi oleh para ahli dari Bidang Kurikulum Pojka Penggerak Pembina Generus (PPG) DPD LDII Jakarta Selatan. Terdapat tiga fokus utama yang dibedah oleh tiga pemateri, yaitu penyederhanaan kurikulum, sinergi orang tua-guru, dan metode evaluasi anak.
Pemateri pertama, Ali Nur Abdul Aziz, memaparkan perbandingan antara kurikulum lama dan kurikulum baru. Ia menyoroti pentingnya penyederhanaan bahasa pengantar agar lebih mudah dipahami. “Bahasa materinya kini lebih diringkas. Penyampaian target materi ini bertujuan untuk mempermudah guru dalam mengontrol pencapaian anak sesuai dengan jenjang usianya,” jelas Ali.
Terkait dengan keberagaman potensi anak, pemateri kedua, Didi Setiawan, menyoroti pentingnya komunikasi dua arah. Ia menyadari bahwa kemampuan serapan ilmu masing-masing anak berbeda, sehingga peran orang tua di rumah sama pentingnya dengan peran guru di kelas.
“Sangat penting untuk menjalin komunikasi yang positif antara orang tua dan guru tentang target pencapaian anak setiap bulannya. Idealnya, ada pertemuan tatap muka antara orang tua dan guru minimal satu kali dalam sebulan untuk menyamakan persepsi,” terang Didi.
Sementara itu, pemateri ketiga, Sami’in Aprilianto, membahas pendekatan baru dalam mengevaluasi peserta didik. Ia memaparkan bahwa praktik evaluasi bisa dilakukan secara fleksibel, baik secara lisan, tulisan, maupun observasi. Penilaian disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak dan dibagi menjadi empat kategori penanganan:
Kategori D: Memerlukan pendampingan secara intensif.
Kategori C: Memerlukan pembiasaan.
Kategori B: Menguasai materi.
Kategori A: Sudah berbakat.


Sami’in memberikan penekanan khusus terkait tujuan dari pengkategorian tersebut. “Sistem ini bukan untuk membandingkan pencapaian setiap anak, tetapi untuk pemerataan kemampuan anak. Pendidik jadi tahu anak mana yang butuh pendampingan lebih intensif dan mana yang butuh pengayaan materi,” pungkasnya.
Melalui penyegaran kurikulum ini, DPD LDII Jakarta Selatan berharap para tenaga pendidik dari PC/PAC LDII di Jakarta Selatan ini dapat menjadi ujung tombak dalam mencetak generasi penerus yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga memiliki karakter yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. (ivan/senja)
